Apa yang dimaksud dengan “memahami” itu?

•November 15, 2009 • Leave a Comment

karate_kid_movie_stillMemahami suatu informasi apabila informasi itu punya asosiasi atau kaitan dengan informasi yang sebelumnya sudah kita simpan di otak kita. Dengan kata lain, kita “tidak akan dapat memahami” apabila informasi yang baru kita terima itu tidak bisa kita hubungkan dengan informasi atau pengetahuan yang sudah ada di otak kita sebelumnya – apapun informasi itu, entah dari buku, latihan, percakapan, seminar, instruksi atau apa saja sehingga dapat dikatakan bahwa “tanpa memori, pengetahuan tak ada artinya.” (What is Knowledge without memory?”).

Mungkin anda pernah nonton film “Karate Kids” (1984), disitu kita bisa lihat perumpamaan pembelajaran dari tema pemahaman ini. Diceritakan seorang pemuda ingin belajar ilmu karate dari seorang master. Sang Master tersebut tidak langsung mengajarkan jurus-jurus ilmu karate, akan tetapi dia menyuruh pemuda tersebut mencuci mobil. Cara mencuci dan mengelap mobilnya dengan gerakan tangan yang khusus. Kalau tangan kiri, bergerak memutar berlawanan arah jarum jam, kalau tangan kanan bergerak memutar searah jarum jam.

Setelah selesai mencuci satu mobil, sang pemuda mengira dia akan mendapatkan pelajaran jurus karate sebagai upahnya, namun apa yang terjadi?, dia disuruh mengerjakan mencuci mobil-mobil yang lain. Terus dan terus sampai akhirnya sang pemuda jengkel dan marah merasa dipermainkan. Pada saat ketegangan memuncak, sang master memukul si pemuda dan si pemuda secara reflek menangkis pukulannya sesuai dengan gerakan mencuci mobil…. pada saat itu si pemuda sadar dan memahami pelajaran yang diambil dari cara mencuci mobil sebelumnya… you see!

Perihal Tuhan, kita ada data yang disampaikan bahwasanya dahulu kala sebelum kita turun kebumi, kita telah naik saksi.

Surat Al A’raaf 172: “Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi.” agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lupa terhadap ini”.

Kata “lupa” menandakan ada informasi dan informasi itu tersimpan dalam memori di jiwa kita. Para spiritualis mencari pengetahuan ini dan ingin mengembalikan memori mereka akan hal ini. Diujung perjalanan dan pertemuan kembali, mereka biasanya menyebut: Ah Ha..! sebagai tanda kesadaran mereka telah kembali.

Jika saja hal tersebut belum pernah disimpan di memori mereka, mereka tidak akan berkata “ah ha”, tapi tidak mengerti dan bingung, seperti orang pergi ke dalam hutan lalu berupaya mencari jalan pulang tapi tak menemukan rumahnya dan justru bertemu dunia yang belum pernah dia lihat.

Ketika berlebihan anda mengalami OCD

•November 1, 2009 • Leave a Comment

SMSJatuh cinta dan cemburu yang berlebihan memiliki fenomena kimia yang sama dengan penyakit jiwa bernama OCD? Masa seh.

Prof. Marazitti, profesor dibidang psikiatri Universitas Pisa Italia, membandingkan kadar serotonin (happy messenger) pada 24 orang yang sedang jatuh cinta dengan orang penderita OCD, menemukan bahwa orang yang sedang jatuh cinta dan penderita OCD turun hingga 40% dibawah normal. Dengan kata lain orang yang jatuh cinta memiliki gejala yang sama dengan OCD. Walau tidak dikatakan secara explisit, tetapi tersimpulkan dari riset ini bahwa orang yang sedang jatuh cinta menjadi sangat tidak rasional dan kehilangan nalar kritis, seperti halnya penderita gangguan jiwa. Masuk akal jika ada kisah romantis Facebooker mengabaikan banyak masalah keluarga dan kerja.

Apa itu OCD?

OCD adalah Obsessive-Compulsive Disorder atau Gangguan Obsesif-kompulsif yaitu kondisi dimana individu tidak mampu mengontrol dari pikiran-pikirannya yang menjadi obsesi yang sebenarnya tidak diharapkannya dan mengulang beberapa kali perbuatan tertentu untuk dapat mengontrol pikirannya tersebut untuk menurunkan tingkat kecemasannya. Gangguan obsesif-kompulsif merupakan gangguan kecemasan dimana dalam kehidupan individu didominasi oleh repetatif pikiran-pikiran (obsesi) yang ditindaklanjuti dengan perbuatan secara berulang-ulang (kompulsi) untuk menurunkan kecemasannya. Sampai disini ngerti nggak ya? saya anggap ngerti aja deh… sederhananya adalah Obsesif adalah pikiran yang mengganggu, Kompulsif adalah perbuatan untuk melepaskan atau melawan dari gangguan pikiran tersebut.

Penderita gangguan ini mungkin telah berusaha untuk melawan pikiran-pikiran menganggu tersebut yang timbul secara berulang-ulang akan tetapi tidak mampu menahan dorongan melakukan tindakan berulang untuk memastikan segala sesuatunya baik-baik saja.

Pelbagai perilaku Gangguan obsesif kompulsif

Individu yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif sebagian besar menunjukkan perilaku kompulsif sebagai bentuk lanjutan dari pikiran-pikiran negatif sebelumnya yang muncul secara berulang, seperti ketakutan terinfeksi kuman, penderita gangguan obsesif-kompulsif sering mencuci tangan (washer) dan perilaku umum lainnya adalah memeriksa (checker) seperti rasa cemas akan kemalingan, penderita gangguan obsesif-kompulsif sering memeriksa pintu apakah sudah dikunci apa belum.

Pelbagai bentuk perilaku gangguan obsesif-kompulsif lainnya adalah;
- Mandi dan menggosok badannya secara berkali-kali dengan sabun disinfektan (cemas berlebihan akan bakteri atau kuman yang dapat membuatnya terinfeksi)
- Memeriksa kompor berulang-ulang apakah sudah dimatikan (cemas berlebihan akan kebakaran)
- Memeriksa toilet apakah ada binatang atau serangga hidup di dalamnya atau terjatuh kedalam toilet (cemas berlebihan untuk membunuh makhluk hidup)
- Mengulang pekerjaannya berkali-kali apakah sudah bagus (sangat perfeksionis)
- Menyisir dan berdandan berkali-kali di depan cermin (cemas berlebihan akan penampilan tidak rapi)
- Mengulang berhitung berkali-kali (cemas berlebihan akan kesalahan pada urutan bilangan)
- Menimbun barang (cemas berlebihan akan krisis kelangkaan barang).
- SMS berkali-kali kepada sang pacar (cemas berlebihan karena takut berselingkuh)

Gangguan obsesif-kompulsif tidak ada kaitan dengan bentuk karakteristik kepribadian seseorang, pada individu yang memiliki kepribadian obsesif-kompulsif cenderung untuk bangga dengan ketelitian, kerapian dan perhatian terhadap hal-hal kecil, sebaliknya pada gangguan obsesif-kompulsif, individu merasa tertekan dengan kemunculan perilakunya yang tidak dapat dikontrol. Mereka merasa malu bila perilaku-perilaku tersebut dipertanyakan oleh orang yang melihatnya karena melakukan pekerjaan yang secara berulang-ulang. Mereka berusaha mati-matian untuk menghilangkan kebiasaan tersebut.

Gangguan obsesif-kompulsif erat kaitan dengan depresi, atau riwayat kecemasan sebelumnya. Beberapa gejala penderita obsesif-kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala yang mirip dengan depresi.

Simptom

Simptom ditandai dengan pengulangan (repetatif) pikiran dan tindakan sedikitnya 4 kali untuk satu kompulsi dalam sehari dan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu selanjutnya. Gejala utama obsesi-kompulsif harus memenuhi kriteria;

1) Perilaku dan pikiran yang muncul tersebut disadari sepenuhnya oleh individu atau didasarkan pada impuls dalam dirinya sendiri. Individu juga menyadari bahwa perilakunya itu tidak rasional, namun tetap dilakukan untuk mengurangi kecemasan.
2) Beberapa perilaku yang muncul disadari oleh oleh individu dan berusaha melawan kebiasaan dan pikiran-pikiran rasa cemas tersebut sekuat tenaga, namun tidak berhasil.
3) Pikiran dan tindakan tersebut tidak memberikan perasaan lega, rasa puas atau kesenangan, melainkan disebabkan oleh rasa khawatir secara berlebihan dan mengurangi stres yang dirasakannya.
4) Obsesi (pikiran) dan kompulsi (perilaku) sifatnya berulang-ulang secara terus-menerus dalam beberapa kali setiap harinya.

Treatment

Psikoterapi.
Treatment psikoterapi untuk gangguan obsesif-kompulsif umumnya diberikan hampir sama dengan gangguan kecemasan lainnya. Ada beberapa faktor OCD sangat sulit untuk disembuhkan, penderita OCD kesulitan mengidentifikasi kesalahan (penyimpangan perilaku) dalam mempersepsi tindakannya sebagai bentuk penyimpangan perilaku yang tidak normal. Individu beranggapan bahwa ia normal-normal saja walaupun perilakunya itu diketahui pasti sangat menganggunya. Baginya, perilaku kompulsif tidak salah dengan perilakunya tapi bertujuan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik-baik saja. Faktor lain adalah kesalahan dalam penyampaian informasi mengenai kondisi yang dialami oleh individu oleh praktisi secara tidak tepat dapat membuat individu merasa enggan untuk mengikuti terapi.

Cognitive-behavioural therapy (CBT) adalah terapi yang sering digunakan dalam pemberian treatment pelbagai gangguan kecemasan termasuk OCD. Dalam CBT penderita OCD pada perilaku mencuci tangan diatur waktu kapan ia mesti mencuci tangannya secara bertahap. Bila terjadi peningkatan kecemasan barulah terapis memberikan izin untuk individu OCD mencuci tangannya. Terapi ini efektif menurunkan rasa cemas dan hilang secara perlahan kebiasaan-kebiasaannya itu.

Dalam CBT terapis juga melatih pernafasan, latihan relaksasi dan manajemen stres pada individu ketika menghadapi situasi konflik yang memberikan kecemasan, rasa takut atau stres muncul dalam diri individu. Pemberian terapi selama 3 bulan atau lebih.

Agama, ya ini penting karena kecemasan kebanyakan dialami oleh orang yang kurang beriman.

Wanita tak bisa mengemudi?

•October 24, 2009 • Leave a Comment

parkirwanita1Karena setiap hari berangkat ke kantor melewati lapangan parkir Metro Indah Mall (MIM) di Jl. Soekarno Hatta no. 590 Bandung, jika ada sesuatu yang baru pastinya tahu. Nah beberapa hari yang lalu, saya melihat sesuatu yang baru dibuat oleh pengelola parkir disitu. Mereka mengecat tempat parkir dan memasang spanduk bertuliskan “AREA PARKIR KHUSUS PENGEMUDI WANITA” (kesannya kok seperti lift dirumah sakit: “LIFT KHUSUS PASIEN”). Hal ini membuat memory saya terbuka kembali akan issue “women can’t drive“.

Benarkah demikian? Sesungguhnya apasih yang terjadi sehingga membuat issue perempuan tidak dapat menyetir, bahkan juga ada pernyataan yang menyebutkan perempuan tak dapat membaca peta?

parkirwanita2Sebagai pemerhati pusat kepribadian, saya selalu mencari jawabannya pada “brain”, untuk hal ini saya fokuskan pada “female brain”. Female brain pada umumnya lebih banyak memiliki kecerdasan language, makanya cerewet dan tukang gosip dikonotasikan sebagai berkepribadian perempuan. Belum lagi memory otaknya diisi untuk menyimpan data-data dengan nama-nama orang, nomor-nomor handphone, tanggal-tanggal ulang tahun, universary, nomor-nomor plat mobil, alamat tempat-tempat belanja, makan dll. Bila kemampuan ini secara sadar maupun tidak sadar terus difungsikan maka kecerdasan ini berkembang memenuhi sirkuit sarafi dibeberapa bagian otaknya dan memengaruhi kecerdasan lain terutama potensi yang jarang digunakan.

Jika kecerdasan spasial yang menjadi korban maka kemampuannya dibidang mengira-ngira ruang seperti menjadi seorang design interior dan menyetir mobil akan lemah. Sebagian besar hal ini terbukti (artinya tidak semua benar), sering kita melihat jika ada seseorang supir amat sulit untuk memarkir kendaraannya, susah mundur atau kalau parkir kurang ketepi, kebanyakan tebakan kita akan menjurus pada: “pasti cewek” dan… kebanyakan tebakan kita adalah benar.

“Nobody perfect, jika ada yang unggul disatu sisi, lemah disisi lain. But that is the perfect.”

Analisis Bencana

•October 12, 2009 • Leave a Comment

gempa_bumiSetelah melihat pemandangan berhari-hari kejadian pasca gempa, melihat orang yang “selamat” dari kematian, sikap-sikap mereka yang tabah dan yang menunggu nasib, menonton reruntuhan, hanyut dalam duka sambil “menjual” nyawa dan harta yang telah hilang untuk berpantas ria meminta ganti dengan bantuan terus menerus. Begitupun sikap orang-orang diluar korban bencana, yang memanfaatkan kejadian dengan menjadi calo tiket pesawat, menyalahkan pemda setempat yang terlambat, menyalahkan pemerintah pusat, mungkin juga sudah menyalahkan Tuhan, mencomot ayat-ayat yang dicocok-cocokkan dengan jam kejadian sepertinya dosa orang yang bermewah-mewah di DPR pusat ditanggung oleh korban yang tewas di daerah, adapula entah dari organisasi mana dikota-kota besar dengan membawa kotak sumbangan mengatasnamakan korban bencana.

Wuh, pemandangan ini membuat saya bergumam: “Ternyata bencana itu untuk yang hidup, sedang yang meninggal dalam bencana adalah menjadi rahasia Tuhan.” Dengan kata lain, mereka yang dalam tanda petik “diselamatkan” mereka itulah yang sedang diuji.

Tidak seperti kisah terdahulu dalam kitab suci, pemusnahan masal yang terjadi memang terkait dengan perilaku maksiat manusianya. Namun sekarang, mereka yang tewas “digoyang” oleh Tuhan belum tentu menunjukkan mereka itu diazab. Kalau dalam kisah Mahabharata, prajurit-prajurit yang dibunuh oleh panah Bhisma lebih mulia daripada yang dibunuh oleh kroco-kroco Kurawa, dan Bhisma pun menginginkan hal yang sama, ingin dibunuh oleh Khresna. Lebih terhormat mati “by God” ketika sedang memperbaiki diri daripada mati karena serangan jantung ketika sedang bermain dengan selingkuhan atau mati karena histeris menonton pertunjukkan Kangen Band (halah lebay).

Pemandangan perilaku manusia pasca gempa diatas tentulah tidak hanya terjadi baru-baru ini, didaerah yang sudah sekian tahun menerima bencana tetap terjadi serupa seperti hal diatas. Ketika bantuan dari pemerintah akan dilaksanakan, data-data dikorup, yang sesungguhnya berhak menerima, tidak menerima, yang seharusnya menerima ganti rugi sekian, sudah disunat oleh oknum-oknum, data-data yang dilaporkan tidak sesuai dengan data yang disurvey, material untuk membangun, diberi yang sudah tak layak pakai karena mengandung asbes atau juga sudah tak laku dijual, makanan dan minuman yang dikirim sudah kadaluarsa. Kita sudah biasa maksiat, sudah biasa menggunakan dalil kitab suci untuk dalih. Dalil “kemiskinan membuat mereka menjadi kufur” menjadi dalih untuk kufur, bukan untuk membuka kesadaran akan pengentasan kemiskinan dan berbuat baik. Dan yang anehnya, orang yang hartanya sudah banyak tetap melakukan hal yang demikian. Jadi bukan keadaan yang membuatnya begitu tapi moralnya memang sudah buruk.

Zaman memang edan menurut Prabu Joyoboyo, kalau tak ikut-ikutan edan, kita tidak kebagian tapi yang selamat adalah orang yang tetap eling dan waspada. Siapa yang berani membayar harga diri kita dengan harga yang pantas? Hanya Allah, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta benda mereka dengan memberikan surga.” (QS: 9:111)

So, bagaimana sikap kita menghadapi bencana yang sewaktu-waktu akan terjadi? Bencana dan kematian pastilah akan terjadi, gempa menurut pakar geologi juga pasti akan terjadi karena lempeng bumi selalu bergerak. Mengetahui tips menghindar dari kecelakaan Gempa bumi adalah penting dimasa sekarang, tapi sekali lagi kematian pastilah datang. Yang terpenting adalah wasiat yang selalu diingatkan Khotib setiap sholat jum’at. Itu adalah Taqwa, sebaik-baiknya bekal.

Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah berbuat dzolim, jika Engkau tak ma’afkan aku dan ampuni aku, maka aku termasuk golongan yang merugi.