Ketika berlebihan anda mengalami OCD

•November 1, 2009 • Leave a Comment

SMSJatuh cinta dan cemburu yang berlebihan memiliki fenomena kimia yang sama dengan penyakit jiwa bernama OCD? Masa seh.

Prof. Marazitti, profesor dibidang psikiatri Universitas Pisa Italia, membandingkan kadar serotonin (happy messenger) pada 24 orang yang sedang jatuh cinta dengan orang penderita OCD, menemukan bahwa orang yang sedang jatuh cinta dan penderita OCD turun hingga 40% dibawah normal. Dengan kata lain orang yang jatuh cinta memiliki gejala yang sama dengan OCD. Walau tidak dikatakan secara explisit, tetapi tersimpulkan dari riset ini bahwa orang yang sedang jatuh cinta menjadi sangat tidak rasional dan kehilangan nalar kritis, seperti halnya penderita gangguan jiwa. Masuk akal jika ada kisah romantis Facebooker mengabaikan banyak masalah keluarga dan kerja.

Apa itu OCD?

OCD adalah Obsessive-Compulsive Disorder atau Gangguan Obsesif-kompulsif yaitu kondisi dimana individu tidak mampu mengontrol dari pikiran-pikirannya yang menjadi obsesi yang sebenarnya tidak diharapkannya dan mengulang beberapa kali perbuatan tertentu untuk dapat mengontrol pikirannya tersebut untuk menurunkan tingkat kecemasannya. Gangguan obsesif-kompulsif merupakan gangguan kecemasan dimana dalam kehidupan individu didominasi oleh repetatif pikiran-pikiran (obsesi) yang ditindaklanjuti dengan perbuatan secara berulang-ulang (kompulsi) untuk menurunkan kecemasannya. Sampai disini ngerti nggak ya? saya anggap ngerti aja deh… sederhananya adalah Obsesif adalah pikiran yang mengganggu, Kompulsif adalah perbuatan untuk melepaskan atau melawan dari gangguan pikiran tersebut.

Penderita gangguan ini mungkin telah berusaha untuk melawan pikiran-pikiran menganggu tersebut yang timbul secara berulang-ulang akan tetapi tidak mampu menahan dorongan melakukan tindakan berulang untuk memastikan segala sesuatunya baik-baik saja.

Pelbagai perilaku Gangguan obsesif kompulsif

Individu yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif sebagian besar menunjukkan perilaku kompulsif sebagai bentuk lanjutan dari pikiran-pikiran negatif sebelumnya yang muncul secara berulang, seperti ketakutan terinfeksi kuman, penderita gangguan obsesif-kompulsif sering mencuci tangan (washer) dan perilaku umum lainnya adalah memeriksa (checker) seperti rasa cemas akan kemalingan, penderita gangguan obsesif-kompulsif sering memeriksa pintu apakah sudah dikunci apa belum.

Pelbagai bentuk perilaku gangguan obsesif-kompulsif lainnya adalah;
- Mandi dan menggosok badannya secara berkali-kali dengan sabun disinfektan (cemas berlebihan akan bakteri atau kuman yang dapat membuatnya terinfeksi)
- Memeriksa kompor berulang-ulang apakah sudah dimatikan (cemas berlebihan akan kebakaran)
- Memeriksa toilet apakah ada binatang atau serangga hidup di dalamnya atau terjatuh kedalam toilet (cemas berlebihan untuk membunuh makhluk hidup)
- Mengulang pekerjaannya berkali-kali apakah sudah bagus (sangat perfeksionis)
- Menyisir dan berdandan berkali-kali di depan cermin (cemas berlebihan akan penampilan tidak rapi)
- Mengulang berhitung berkali-kali (cemas berlebihan akan kesalahan pada urutan bilangan)
- Menimbun barang (cemas berlebihan akan krisis kelangkaan barang).
- SMS berkali-kali kepada sang pacar (cemas berlebihan karena takut berselingkuh)

Gangguan obsesif-kompulsif tidak ada kaitan dengan bentuk karakteristik kepribadian seseorang, pada individu yang memiliki kepribadian obsesif-kompulsif cenderung untuk bangga dengan ketelitian, kerapian dan perhatian terhadap hal-hal kecil, sebaliknya pada gangguan obsesif-kompulsif, individu merasa tertekan dengan kemunculan perilakunya yang tidak dapat dikontrol. Mereka merasa malu bila perilaku-perilaku tersebut dipertanyakan oleh orang yang melihatnya karena melakukan pekerjaan yang secara berulang-ulang. Mereka berusaha mati-matian untuk menghilangkan kebiasaan tersebut.

Gangguan obsesif-kompulsif erat kaitan dengan depresi, atau riwayat kecemasan sebelumnya. Beberapa gejala penderita obsesif-kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala yang mirip dengan depresi.

Simptom

Simptom ditandai dengan pengulangan (repetatif) pikiran dan tindakan sedikitnya 4 kali untuk satu kompulsi dalam sehari dan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu selanjutnya. Gejala utama obsesi-kompulsif harus memenuhi kriteria;

1) Perilaku dan pikiran yang muncul tersebut disadari sepenuhnya oleh individu atau didasarkan pada impuls dalam dirinya sendiri. Individu juga menyadari bahwa perilakunya itu tidak rasional, namun tetap dilakukan untuk mengurangi kecemasan.
2) Beberapa perilaku yang muncul disadari oleh oleh individu dan berusaha melawan kebiasaan dan pikiran-pikiran rasa cemas tersebut sekuat tenaga, namun tidak berhasil.
3) Pikiran dan tindakan tersebut tidak memberikan perasaan lega, rasa puas atau kesenangan, melainkan disebabkan oleh rasa khawatir secara berlebihan dan mengurangi stres yang dirasakannya.
4) Obsesi (pikiran) dan kompulsi (perilaku) sifatnya berulang-ulang secara terus-menerus dalam beberapa kali setiap harinya.

Treatment

Psikoterapi.
Treatment psikoterapi untuk gangguan obsesif-kompulsif umumnya diberikan hampir sama dengan gangguan kecemasan lainnya. Ada beberapa faktor OCD sangat sulit untuk disembuhkan, penderita OCD kesulitan mengidentifikasi kesalahan (penyimpangan perilaku) dalam mempersepsi tindakannya sebagai bentuk penyimpangan perilaku yang tidak normal. Individu beranggapan bahwa ia normal-normal saja walaupun perilakunya itu diketahui pasti sangat menganggunya. Baginya, perilaku kompulsif tidak salah dengan perilakunya tapi bertujuan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik-baik saja. Faktor lain adalah kesalahan dalam penyampaian informasi mengenai kondisi yang dialami oleh individu oleh praktisi secara tidak tepat dapat membuat individu merasa enggan untuk mengikuti terapi.

Cognitive-behavioural therapy (CBT) adalah terapi yang sering digunakan dalam pemberian treatment pelbagai gangguan kecemasan termasuk OCD. Dalam CBT penderita OCD pada perilaku mencuci tangan diatur waktu kapan ia mesti mencuci tangannya secara bertahap. Bila terjadi peningkatan kecemasan barulah terapis memberikan izin untuk individu OCD mencuci tangannya. Terapi ini efektif menurunkan rasa cemas dan hilang secara perlahan kebiasaan-kebiasaannya itu.

Dalam CBT terapis juga melatih pernafasan, latihan relaksasi dan manajemen stres pada individu ketika menghadapi situasi konflik yang memberikan kecemasan, rasa takut atau stres muncul dalam diri individu. Pemberian terapi selama 3 bulan atau lebih.

Agama, ya ini penting karena kecemasan kebanyakan dialami oleh orang yang kurang beriman.

Wanita tak bisa mengemudi?

•October 24, 2009 • Leave a Comment

parkirwanita1Karena setiap hari berangkat ke kantor melewati lapangan parkir Metro Indah Mall (MIM) di Jl. Soekarno Hatta no. 590 Bandung, jika ada sesuatu yang baru pastinya tahu. Nah beberapa hari yang lalu, saya melihat sesuatu yang baru dibuat oleh pengelola parkir disitu. Mereka mengecat tempat parkir dan memasang spanduk bertuliskan “AREA PARKIR KHUSUS PENGEMUDI WANITA” (kesannya kok seperti lift dirumah sakit: “LIFT KHUSUS PASIEN”). Hal ini membuat memory saya terbuka kembali akan issue “women can’t drive“.

Benarkah demikian? Sesungguhnya apasih yang terjadi sehingga membuat issue perempuan tidak dapat menyetir, bahkan juga ada pernyataan yang menyebutkan perempuan tak dapat membaca peta?

parkirwanita2Sebagai pemerhati pusat kepribadian, saya selalu mencari jawabannya pada “brain”, untuk hal ini saya fokuskan pada “female brain”. Female brain pada umumnya lebih banyak memiliki kecerdasan language, makanya cerewet dan tukang gosip dikonotasikan sebagai berkepribadian perempuan. Belum lagi memory otaknya diisi untuk menyimpan data-data dengan nama-nama orang, nomor-nomor handphone, tanggal-tanggal ulang tahun, universary, nomor-nomor plat mobil, alamat tempat-tempat belanja, makan dll. Bila kemampuan ini secara sadar maupun tidak sadar terus difungsikan maka kecerdasan ini berkembang memenuhi sirkuit sarafi dibeberapa bagian otaknya dan memengaruhi kecerdasan lain terutama potensi yang jarang digunakan.

Jika kecerdasan spasial yang menjadi korban maka kemampuannya dibidang mengira-ngira ruang seperti menjadi seorang design interior dan menyetir mobil akan lemah. Sebagian besar hal ini terbukti (artinya tidak semua benar), sering kita melihat jika ada seseorang supir amat sulit untuk memarkir kendaraannya, susah mundur atau kalau parkir kurang ketepi, kebanyakan tebakan kita akan menjurus pada: “pasti cewek” dan… kebanyakan tebakan kita adalah benar.

“Nobody perfect, jika ada yang unggul disatu sisi, lemah disisi lain. But that is the perfect.”

Analisis Bencana

•October 12, 2009 • Leave a Comment

gempa_bumiSetelah melihat pemandangan berhari-hari kejadian pasca gempa, melihat orang yang “selamat” dari kematian, sikap-sikap mereka yang tabah dan yang menunggu nasib, menonton reruntuhan, hanyut dalam duka sambil “menjual” nyawa dan harta yang telah hilang untuk berpantas ria meminta ganti dengan bantuan terus menerus. Begitupun sikap orang-orang diluar korban bencana, yang memanfaatkan kejadian dengan menjadi calo tiket pesawat, menyalahkan pemda setempat yang terlambat, menyalahkan pemerintah pusat, mungkin juga sudah menyalahkan Tuhan, mencomot ayat-ayat yang dicocok-cocokkan dengan jam kejadian sepertinya dosa orang yang bermewah-mewah di DPR pusat ditanggung oleh korban yang tewas di daerah, adapula entah dari organisasi mana dikota-kota besar dengan membawa kotak sumbangan mengatasnamakan korban bencana.

Wuh, pemandangan ini membuat saya bergumam: “Ternyata bencana itu untuk yang hidup, sedang yang meninggal dalam bencana adalah menjadi rahasia Tuhan.” Dengan kata lain, mereka yang dalam tanda petik “diselamatkan” mereka itulah yang sedang diuji.

Tidak seperti kisah terdahulu dalam kitab suci, pemusnahan masal yang terjadi memang terkait dengan perilaku maksiat manusianya. Namun sekarang, mereka yang tewas “digoyang” oleh Tuhan belum tentu menunjukkan mereka itu diazab. Kalau dalam kisah Mahabharata, prajurit-prajurit yang dibunuh oleh panah Bhisma lebih mulia daripada yang dibunuh oleh kroco-kroco Kurawa, dan Bhisma pun menginginkan hal yang sama, ingin dibunuh oleh Khresna. Lebih terhormat mati “by God” ketika sedang memperbaiki diri daripada mati karena serangan jantung ketika sedang bermain dengan selingkuhan atau mati karena histeris menonton pertunjukkan Kangen Band (halah lebay).

Pemandangan perilaku manusia pasca gempa diatas tentulah tidak hanya terjadi baru-baru ini, didaerah yang sudah sekian tahun menerima bencana tetap terjadi serupa seperti hal diatas. Ketika bantuan dari pemerintah akan dilaksanakan, data-data dikorup, yang sesungguhnya berhak menerima, tidak menerima, yang seharusnya menerima ganti rugi sekian, sudah disunat oleh oknum-oknum, data-data yang dilaporkan tidak sesuai dengan data yang disurvey, material untuk membangun, diberi yang sudah tak layak pakai karena mengandung asbes atau juga sudah tak laku dijual, makanan dan minuman yang dikirim sudah kadaluarsa. Kita sudah biasa maksiat, sudah biasa menggunakan dalil kitab suci untuk dalih. Dalil “kemiskinan membuat mereka menjadi kufur” menjadi dalih untuk kufur, bukan untuk membuka kesadaran akan pengentasan kemiskinan dan berbuat baik. Dan yang anehnya, orang yang hartanya sudah banyak tetap melakukan hal yang demikian. Jadi bukan keadaan yang membuatnya begitu tapi moralnya memang sudah buruk.

Zaman memang edan menurut Prabu Joyoboyo, kalau tak ikut-ikutan edan, kita tidak kebagian tapi yang selamat adalah orang yang tetap eling dan waspada. Siapa yang berani membayar harga diri kita dengan harga yang pantas? Hanya Allah, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta benda mereka dengan memberikan surga.” (QS: 9:111)

So, bagaimana sikap kita menghadapi bencana yang sewaktu-waktu akan terjadi? Bencana dan kematian pastilah akan terjadi, gempa menurut pakar geologi juga pasti akan terjadi karena lempeng bumi selalu bergerak. Mengetahui tips menghindar dari kecelakaan Gempa bumi adalah penting dimasa sekarang, tapi sekali lagi kematian pastilah datang. Yang terpenting adalah wasiat yang selalu diingatkan Khotib setiap sholat jum’at. Itu adalah Taqwa, sebaik-baiknya bekal.

Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah berbuat dzolim, jika Engkau tak ma’afkan aku dan ampuni aku, maka aku termasuk golongan yang merugi.

Apa itu Meditasi?

•October 5, 2009 • Leave a Comment

mental resilienceIni adalah penjelasan dari seorang praktisi meditasi bernama Kamal Sarma dari bukunya yang berjudul ” Mental resilience, the power of clarity” yang saya terjemahkan secara bebas. Seakan dua permukaan pada satu mata uang. Dibalik kesalahpahaman ini, dijelaskan juga apa yang sebenarnya yang keliru pada pandangan orang sehingga kita mengerti tetang apa itu meditasi.

Salah paham 1: Meditasi adalah hanya untuk relaksasi
Anda dapat katakan meditasi adalah latihan relaksasi — proses konsentrasi pikiran adalah menenangkan pikiran dan mengusir stress dari luar. Relaksasi adalah adalah kunci awal teknik meditasi, sebab relaksasi adalah langkah pertama dari latihan meditasi. Namun selanjutnya, meditasi tidak sekedar relaksasi. Ia dapat menelusuri kedalaman diri, melalui level-level kesadaran dan subkesadaran dari pikiran anda. Melalui ini anda memperoleh ketajaman untuk mengetahui siapa yang men ‘drive’ tindakan anda dan siapa yang memotivasi keputusan anda dalam membuat keputusan. Keadaan ini sering disebut ‘pemusatan pikiran’. Sederhananya adalah anda akan mengetahui bahwa keputusan anda diambil dari kebersihan pikiran atau dari dari hawa nafsu atau mental distruktif.

Salah paham 2: Meditasi bertujuan untuk Trance
Meditasi tidak perlu keterlibatan ke keadaan trance. Ini bukan tentang keluar dari diri, memperoleh ketidaksadaran, atau lari dari realitas sebab kenyataannya adalah sebaliknya — meditasi adalah peningkatan kesadaran untuk memperoleh kesadaran yang lebih tinggi.
Meditasi adalah lebih kepada pengalaman langsung saat sekarang. Sewaktu anda bermeditasi, anda belajar untuk mengakui apa yang terjadi didalam dirimu dan fokus pada emosi yg terjadi pada dirimu, dengan ini kita mengalaminya dengan penuh kesadaran.

Proses menghindar dari perasaan negatif kepada positif sangat melelahkan. Meditasi menyediakan anda dengan tantangan untuk “duduk bersama” dengan emosi yang terjadi dan mengalaminya secara aktual. Dengan proses ini, anda akan menemui tantangan, tapi akhirnya akan membebaskan dan menyegarkan. Menghadapi emosi dan mengakuinya, memberi anda keberanian dan kekuatan. Ini membentuk mental stamina dan kekuatan emosi untuk membuat keputusan yang tidak merugikan kepada perasaan anda. Menurut John Welwood seorang psikolog, “Melepaskan energi emosi seperti mencebur kedasar laut, didasarnya semua gelombang emosi menjadi tenang.”

Salah paham 3: Meditasi hanyalah trend
Disebut trend karena datang dan perginya biasanya lemah akan subtansi. Dapat memuaskan secara instan tapi jarang menimbulkan komitmen tinggi untuk mengorbankan waktu dan enerji dalam jangka waktu yang panjang.
Tidak demikian dengan meditasi, meditasi adalah praktek yang sudah dikenal ribuan tahun, walau sejarahnya tidak cukup dikenal oleh dunia pada awalnya namun peningkatan pengenalannya oleh para praktisi, lalu manfaat kegunaannya yang sangat signifikan membuat meditasi ini di rekomendasikan untuk kesehatan jasmani dan rohani para eksekutif, ibu rumah tangga, lawyer, artis dan profesi-profesi lain.

Salah paham 4: Meditasi hanyalah untuk orang suci
Beberapa pengertian mengenai meditasi: “untuk meditasi, anda harus sudah tercerahkan, haruslah seorang vegetarian, bergabung dengan sekte keyakinan tertentu, atau harus lepas dari sentuhan syetan alias orang suci. Benar? Salah! Meditasi adalah latihan ketenangan, memfokuskan dan perhatian pada pikiran. Latihan ini adalah cocok untuk orang-orang seperti anda dan saya yang bekerja setiap hari yang harus memutuskan perkara apa yang harus dibeli, dijual, dikirim, memutuskan tanggal pergi, dead line bahkan memutuskan untuk mengatakan ya atau tidak untuk sebuah undangan pesta makan. Meditasi adalah untuk orang yang setiap hari menghadapi tekanan dan mencoba untuk hidup seimbang antara pekerjaan, keluarga dan pertemanan. Meditasi cocok untuk vegetarian maupun non vegetarian.

Salah paham 5: Meditasi membuat anda keluar dari realita
Meditasi menjadi populer di Barat sejak 1960an dan datang bersamaan dengan experimen-experimen dengan kehidupan alternatif yang penuh obat-obatan. Sebagai hasilnya, beberapa berasumsi bahwa orang yang bermeditasi juga pemakai obat-obatan.

Kenyataannya tidak demikian dengan Meditasi, melalui meditasi anda dapat merasa nikmat secara alami yang efek ini secara umum berlawanan dengan orang-orang yang memakai obat penenang.
Obat sering membawa anda lepas dari realitas, mematikan rasa dan emosi. Sedang meditasi membuat anda mengalami realitas dari emosi-emosi yang muncul secara sadar dan secara bertahap membangun kemampuan untuk fokus. Keadaan nikmat yang diperoleh dalam meditasi datang dari keberanian untuk menghadapi emosi yang datang dan mengalaminya secara langsung tanpa harus kehilangan kesadaran akan realitas hidup ini.

Salah paham 6: Meditasi menghabiskan waktu yang cukup banyak
Komplain orang-orang pada umumnya adalah, “Saya tidak punya banyak waktu untuk melakukan hal lain karena sibuk di pekerjaan, kalau saya habiskan untuk bermeditasi, kapan saya bisa melakukan pekerjaan?
Banyak orang mempertimbangkan meditasi adalah suatu kegiatan yang menyita waktu yang banyak. Tapi paradox dengan persepsi diatas adalah meditasi justru memberikan orang banyak waktu luang.

Guru meditasi menjamin bahwa 1 menit bermeditasi equivalent dengan 10 menit tidur nyenyak (namun demikian bagi seorang pemula direkomendasikan menyediakan waktu 10 – 15 menit). “Tidur nyenyak” dalam meditasi membantu menjernihkan pikiran sehingga dapat mengefektifkan si pemikir, apalagi anda akan dapat membuat keputusan lebih cepat dan tepat yang membuat anda semakin banyak waktu untuk melakukan hal yang lain.

Salah paham 7: Meditasi menghendaki tidak berpikir apa-apa
Ini adalah miskonsepsi yang umum yang sering anda baca dan dengar tentang meditasi. Banyak orang mengatakan, “Saya tidak dapat bermeditasi karena saya tidak bisa menghentikan dan mengosongkan pikiran saya.” Bagaimanapun, khususnya bagi seorang pemula, meditasi bukan untuk memikirkan apa-apa atau mengosongkan pikiran. Ini benar!, meditasi adalah tentang menenangkan dan mendamaikan pikiran, dan ini tidak menghendaki anda harus mengosongkan pikiran. Kenyataannya, MENCOBA UNTUK MENGOSONGKAN PIKIRAN MEMBUAT ANDA BERPIKIR SESUATU.
Meditasi menghendaki anda untuk “awas” di pikiran dan reaksi anda. Dengan fokus pada pengamatan atau pengenalan pikiran, jarak antar pikiran satu dengan lainnya akan melebar, karena bisa jadi pikiran yang muncul sebenarnya tidak perlu atau tidak berguna untuk dipikirkan dan dibiarkan pergi, sehingga pikiran anda akan berangsur tenang dan anda akan relax.
Meditasi menolong anda untuk damai dengan apapun yang terjadi dipikiran anda. Ketika anda menjadi awas dan mengamati dan mengenali segala yang berseliweran dipikiran anda, anda akan membangun keinginan dan kapasitas untuk membiarkan mereka pergi.

Ketika keadaan sosial kita berkembang, ini membuat lebih kompleks, dunia akan lebih berisik, cepat dan banyak keinginan, meditasi akan terus menjadi perhatian dan kebutuhan, karena meditasi menyediakan skill untuk memperoleh rasa tenang, berani dan tahan banting. Bagi praktisi, meditasi lebih berguna di tengah masyarakat ketimbang duduk bersila digunung tinggi.

Kesimpulan (dari saya):
Yang mengetahui tentang yang mana yang dinamakan ‘proses’ dan yang mana yang dinamakan ‘hasil’ adalah orang yang berilmu, sebaliknya adalah orang yang bingung.

Menenangkan pikiran adalah “proses”, pikiran jernih/kosong adalah “hasil”.
Mengenal diri adalah “proses”, mengenal Tuhan adalah “hasil”.

Sebaliknya,
Jika mengosongkan pikiran adalah proses, maka mencoba untuk mengosongkan pikiran membuat kita berpikir sesuatu.
Jika mengenal Tuhan adalah proses, maka akan banyak bermunculan berbagai persepsi akan Tuhan.
So, buang kekeliruan ini dan kerjakan sesuatu yang benar.

“Masalah tak dapat dipecahkan oleh level kesadaran dimana ia diciptakan.” (Albert Einstein)