Otak merangsang orientasi Seks

desireTerkadang orang tidak menyadari betapa eratnya hubungan otak dengan orientasi sex. Beberapa tahun lalu kita sempat heboh dengan film Basic Instinc. Dalam salah satu dialognya, terlontar ucapan Sharon Stone kepada Michael Douglas (dalam peran mereka): bila kita mau melakukan hubungan seksual, organ apa yang pertama kali dirangsang? jawabannya: otak!

Contohnya: dalam kenyataan sehari hari, apakah kita akan dapat ereksi, bila kita sedang dihadapkan dengan deadline ketat, lalu di depan kita ada bos yang sedang mengawasi, juga seorang wanita cantik yang tidak menggunakan sehelai benang pun ditubuhnya? Jawaban dan kejadian seperti ini: kita tidak akan mampu ereksi.

Tapi akan lain misalnya, ketika kita sedang ada di mobil yang melaju dimalam hari, saat stereo kita mengalunkan lagu sometimes late at night, sementara di sebelah kita ada teman wanita yang terpaksa harus kita antar ke rumahnya karena sudah terlanjur pagi untuknya naik taksi sendiri, walaupun ia berpakaian lengkap, dan tidak ada manuver-manuver yang menyatakan ketertarikan diantara kita, tapi kita pasti akan terbawa suasana romantis yang timbul. Karena apa? Karena pada saat itu otak kita bekerja dan membangun suasana romantis, menjadi suatu reaksi yang membuat kita terhanyut didalamnya.

Juga ketika kita melihat wanita cantik atau pria ganteng, respon normal yang timbul adalah betapa senangnya kita memandang wajah-wajah bening dan ganteng-ganteng itu. Perasaan senang itu timbul akibat kerja yang rumit dari sistem-sistem yang ada di otak kita. Dimana impuls yang kita terima saat memandang si wajah bening, akan diteruskan ke sistem saraf pusat, dan diterjemahkan melalui suatu reaksi yang sangat rumit, dan kemudian impuls itu hinggap ke bagian septum dari thalamus dan terciptalah sensasi yang menyenangkan.

Tingkah laku kita, khususnya tingkah laku seksual merupakan cermin dari otak. Termasuk orientasi seksual yang timbul (homoseksual ataupun heteroseksual), bahkan gairah seksual juga dipengaruhi oleh perkembangan otak.

Struktur otak yang berperan menentukan gairah dan orientasi seksual adalah:

Limbik Sistem, merupakan bagian dari otak yang mengurusi masalah emosi, sedih, senang, marah, kepribadian, serta orientasi seksual yang ada pada diri kita. Menurut hasil pemeriksaan otopsi yang sudah banyak dimuat di banyak tulisan, didapatkan suatu fakta bahwa nucleus supra-chiasmatik (yang merupakan salah satu bagian dari system limbic) pada pria homoseksual, ternyata lebih besar daripada ukuran nucleus supra-chiasmatik pada pria heteroseksual: demikian pula pada wanitanya. Sedangkan bila terjadi pembesaran di bagian-bagian otak seperti amigdala dan commisura anterior, maka yang terjadi adalah orang-orang yang senang melakukan kecenderungan seksual yang aneh-aneh dan hiperseks.

Hipothalamus, organ kecil ini terletak di otak, dan telah berfungsi sejak kita lahir. Perkembangan kepribadian wanita dan pria ditentukan oleh kadar testosterone saat janin, sehingga bila jumlah testosteron banyak, makan akan timbul kepribadian pria, sedang bila janin di dalam kandungan memiliki organ genital pria, namun kadar testosteronnya kurang dari yang seharusnya, maka ia akan menjadi pria dengan kepribadian kewanita-wanitaan, demikian juga sebaliknya.

Amigdala, melalui organ di otak inilah rasa takut, senang, cinta, dan persahabatan diolah lebih lanjut. Bila organ ini rusak, terjadi kekacauan orientasi seksual. Bila kedua amigdala yang ada di otak kita rusak, maka jadilah kita senang melakukan hubungan seksual dengan spesies lain, seperti hewan.

Lobus Frontal, Bagian otak ini adalah bagian terdepan dari otak kita, bagian yang mengatur fungsi luhur kita sebagai manusia. Bila lobus frontal berfungsi baik, jadilah kita seorang yang beradab, tahu etika dan tata karma, sopan-santun dan menghargai orang lain, termasuk dibidang seksual sekalipun. Bila daerah ini rusak, maka kita akan menjadi kebalikan dengan semua yang telah disebut sebelumnya. Kita akan menjadi jorok (senang mengeluarkan kata-kata kotor), senang melakukan aktivitas seksual di tempat ramai, seperti seorang pria yang menggosok-gosokkan kelaminnya ke anggota tubuh wanita dalam kepadatan di kendaraan umum, senang mengganggu orang secara seksual (menepuk pantat wanita yang tidak kita kenal), atau bahkan menjadi orang yang cenderung ekshibisionis, dengan melakukan onani di tempat ramai.

Lebih lanjut lagi, kita sudah tahu bahwa kegiatan seksual, misalnya pada pria, adalah ereksi dan ejakulasi, sedangkan pada wanita adalah sekresi vagina, pembesaran klitoris, dan orgasme yang diatur oleh serabut-serabut saraf yang bernama simpatis dan parasimpatis, yang diatur pula oleh pusat mereka di bagian otak yang disebut hypothalamus. Sehingga, bila ada seorang yang mengalami gangguan fungsi ereksi, ataupun wanita yang bila melakukan hubungan seks tidak pernah mencapai orgasme, harus dilakukan pemeriksaan secara teliti. Karena apabila factor psikologis telah disingkirkan, maka harus dipikirkan pula adanya gangguan syaraf simpatis dan parasimpatis, yakni menurunnya fungsi dari organ-organ seks akibat terlalu banyak minum alcohol atau merokok, misalnya.

Para peminum alcohol yang sudah berlangsung lama, maka alcohol akan menurunkan kadar plasma testosterone dan meningkatkan estrogen pada pria, sehingga akan mempengaruhi fungsi ereksi. Jadi bila ada mitos mengatakan minum alcohol akan menambah kejantanan, hal tersebut salah besar, yang terjadi justru akan menurunkan hormon-hormon kejantanan, terutama pada ras mongoloid (ya ras kitalah), sehingga dikalangan medis terdapat ungkapan popular, bahwa alcohol will increase the desire but lessen the ability. Jumlah peminum alcohol dalam jangka waktu lama yang menderita gangguan fungsi seksual, didapatkan angka sekita 10% – 50%.

Sedang merokok dapat mengecilkan lumen pembuluh darah yang menuju penis, sehingga aliran darah ke penis terganggu, dan sewaktu ereksi penis tidak keras lagi. Kejadian para perokok yang menderita gangguan seksual, tercatat berkisar antara 10 – 15%.

Sekarang didapatkan lagi: bahwa bau-bauan phremonense ternyata mampu memberikan sensasi seksual. Mengapa kita tertarik dengan si B bukan dengan si A yang lebih cantik, dengan kepribadian yang lebih ramah, hal tersebut disinyalir bahwa bau-bauan (bau tubuh, bukan bau parfum) dari badan si B ternyata cocok dengan kita, sehingga walaupun si B tidak begitu cantik, kepribadiannya pun biasa-biasa saja (ditambah lagi orang tuanya biasa-biasa), tapi karena reaksi baud dari tubuhnya itulah kita selalu merindukannya. Dan akibat reaksi dari bagian otak kita yang bernama septum, maka kita terasa “addict” terhadap bau-bauan dari tubuh si B, sehingga rasa mau bertemu dengan si B tidak habis-habisnya muncul di pikiran.

Sejak diketahui kaitan nyata antara bau-bauan dan otak dalam merangsang atau memberikan sensai seksual, seperti kita tahu sekarang, banyak sekali dijual aroma-aroma dari essence yang dimaksudkan untuk meningkatkan libido atau membangkitkan daya seks. Apakah itu selalu berhasil? Terpulang pada pengalaman masing-masing agaknya.

From: powerbrainindonesia@yahoo.com

~ by Evolution Brain on September 20, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.