Analisis Bencana
Setelah melihat pemandangan berhari-hari kejadian pasca gempa, melihat orang yang “selamat” dari kematian, sikap-sikap mereka yang tabah dan yang menunggu nasib, menonton reruntuhan, hanyut dalam duka sambil “menjual” nyawa dan harta yang telah hilang untuk berpantas ria meminta ganti dengan bantuan terus menerus. Begitupun sikap orang-orang diluar korban bencana, yang memanfaatkan kejadian dengan menjadi calo tiket pesawat, menyalahkan pemda setempat yang terlambat, menyalahkan pemerintah pusat, mungkin juga sudah menyalahkan Tuhan, mencomot ayat-ayat yang dicocok-cocokkan dengan jam kejadian sepertinya dosa orang yang bermewah-mewah di DPR pusat ditanggung oleh korban yang tewas di daerah, adapula entah dari organisasi mana dikota-kota besar dengan membawa kotak sumbangan mengatasnamakan korban bencana.
Wuh, pemandangan ini membuat saya bergumam: “Ternyata bencana itu untuk yang hidup, sedang yang meninggal dalam bencana adalah menjadi rahasia Tuhan.” Dengan kata lain, mereka yang dalam tanda petik “diselamatkan” mereka itulah yang sedang diuji.
Tidak seperti kisah terdahulu dalam kitab suci, pemusnahan masal yang terjadi memang terkait dengan perilaku maksiat manusianya. Namun sekarang, mereka yang tewas “digoyang” oleh Tuhan belum tentu menunjukkan mereka itu diazab. Kalau dalam kisah Mahabharata, prajurit-prajurit yang dibunuh oleh panah Bhisma lebih mulia daripada yang dibunuh oleh kroco-kroco Kurawa, dan Bhisma pun menginginkan hal yang sama, ingin dibunuh oleh Khresna. Lebih terhormat mati “by God” ketika sedang memperbaiki diri daripada mati karena serangan jantung ketika sedang bermain dengan selingkuhan atau mati karena histeris menonton pertunjukkan Kangen Band (halah lebay).
Pemandangan perilaku manusia pasca gempa diatas tentulah tidak hanya terjadi baru-baru ini, didaerah yang sudah sekian tahun menerima bencana tetap terjadi serupa seperti hal diatas. Ketika bantuan dari pemerintah akan dilaksanakan, data-data dikorup, yang sesungguhnya berhak menerima, tidak menerima, yang seharusnya menerima ganti rugi sekian, sudah disunat oleh oknum-oknum, data-data yang dilaporkan tidak sesuai dengan data yang disurvey, material untuk membangun, diberi yang sudah tak layak pakai karena mengandung asbes atau juga sudah tak laku dijual, makanan dan minuman yang dikirim sudah kadaluarsa. Kita sudah biasa maksiat, sudah biasa menggunakan dalil kitab suci untuk dalih. Dalil “kemiskinan membuat mereka menjadi kufur” menjadi dalih untuk kufur, bukan untuk membuka kesadaran akan pengentasan kemiskinan dan berbuat baik. Dan yang anehnya, orang yang hartanya sudah banyak tetap melakukan hal yang demikian. Jadi bukan keadaan yang membuatnya begitu tapi moralnya memang sudah buruk.
Zaman memang edan menurut Prabu Joyoboyo, kalau tak ikut-ikutan edan, kita tidak kebagian tapi yang selamat adalah orang yang tetap eling dan waspada. Siapa yang berani membayar harga diri kita dengan harga yang pantas? Hanya Allah, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta benda mereka dengan memberikan surga.” (QS: 9:111)
So, bagaimana sikap kita menghadapi bencana yang sewaktu-waktu akan terjadi? Bencana dan kematian pastilah akan terjadi, gempa menurut pakar geologi juga pasti akan terjadi karena lempeng bumi selalu bergerak. Mengetahui tips menghindar dari kecelakaan Gempa bumi adalah penting dimasa sekarang, tapi sekali lagi kematian pastilah datang. Yang terpenting adalah wasiat yang selalu diingatkan Khotib setiap sholat jum’at. Itu adalah Taqwa, sebaik-baiknya bekal.
Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah berbuat dzolim, jika Engkau tak ma’afkan aku dan ampuni aku, maka aku termasuk golongan yang merugi.
