Otak Sebagai Sumber Komunikasi Peradaban
Otak sebagai sumber komunikasi peradaban Minimal terdapat dua alasan mengapa otak sangatlah penting bagi manusia.
Pertama, secara biologis otak adalah pusat semua aktivitas tubuh, baik itu kegiatan disadari maupun tidak disadari. Oleh karenanya, otak selalu diklaim sebagai Central Prosesor Unit (CPU), sistem komputerisasi tubuh manusia.
Kedua, secara simbolis, otak diposisikan pada bagian tubuh paling atas dan menempati posisi paling tinggi dari semua organ tubuh. Otak memproduksi pikiran. Pikiran manusia senantiasa abadi meskipun manusia dan otaknya telah tiada. Di samping itu, otak manusia memiliki daya tampung yang cukup banyak.
Kelebihan lain dari otak manusia adalah memiliki letak (peta) yang begitu kompleks dan multifungsi sehingga dengan fungsinya masing-masing otak dapat dibedakan, misalnya, ada otak depan, otak belakang, otak kanan, otak kiri, kulit otak, dan sebagainya. Bagian-bagian dari otak tersebut di atas, dalam dunia keseharian memiliki peran dan fungsi masing-masing. Otak kanan, misalnya, banyak digunakan untuk segala sesuatu yang bersifat seni dan perasaan, emosi, serta lainnya. Sementara itu, segala sesuatu yang bersifat matematis, objektif, dan rasional lebih banyak menggunakan fungsi otak kiri.
Kajian tentang otak dan kecerdasan manusia sangat penting dalam komunikasi peradaban, karena peradaban (komunikasi peradaban) menjadikan “mind” sebagai landasan berpijaknya. Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa suatu peradaban haruslah dikomunikasikan (dikonstruksi/disosialisasikan) oleh aktor-aktor peradaban yang memiliki tingkat kecerdasan yang komplet, yakni memiliki IQ, EQ, dan SQ yang baik. Di tangan aktor peradaban yang memiliki ketiga kecerdasan tersebut, peradaban yang lahir adalah peradaban yang rah-matallilalamiin.
Sebaliknya, tanpa memiliki ketiga kecerdasan tersebut peradaban yang akan dihasilkan adalah peradaban yang “pincang” dan akan hancur, seperti hancurnya negeri-negeri (peradaban-peradaban) tempo dulu sebagaimana telah digambarkan oleh Harun Yahya (2004) dalam bukunya “Negeri-Negeri yang Musnah”.
(diambil dari http://bataviase.co.id/node/52778)
